Braditi Moulevey Rajo Mudo: IKM Jakarta Dukung Ridwan Kamil-Suswono di Pilgub Jakarta

Jakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minang (IKM) Jakarta dilaporkan mendukung pasangan Calon Gubernur (Cagub) Ridwan Kamil dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) provinsi tersebut. Ketua DPW IKM Jakarta, Braditi Moulevey Rajo Mudo membenarkan bahwa persatuan perantau Minang yang berada di dalam organisasi itu menjatuhkan pilihannya kepada pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil-Suswono (RIDO). “Dukungan ini kami berikan setelah mendengarkan aspirasi dari seluruh pengurus di tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IKM Jakarta. Mereka menginginkan bahwa di Pilkada Jakarta, dukungan diberikan kepada Ridwan Kamil dan Suswono,” katanya, Kamis (14/11/2024). Dukungan yang diberikan IKM Jakarta kepada Ridwan Kamil dan Suswono, kata Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu bukan tanpa alasan. “Beberapa alasan IKM Jakarta mendukung RIDO adalah, di mana kita sebagai orang Minang itu tentu melihat bagaimana ketokohan seseorang, baik dari sisi religiusitas, keagamaan, latar belakang pendidikannya dan pengalaman dalam hal pemerintahan,” katanya. IKM Jakarta, kata Moulevey yang berasal dari Padang itu berharap Ridwan Kamil dan Suswono bisa lebih memperhatikan lagi warga Jakarta yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar) atau Minangkabau. “Mudah-mudahan dengan kepemimpinan pasangan RIDO, tentu akan lebih baik untuk pembangunan Jakarta, bisa lebih maju,” katanya. “Jakarta sebagai etalase Indonesia yang dihuni berbagai banyak suku, tentunya pasangan RIDO diyakini bisa menjaga keharmonisan warga yang berasal dari berbagai suku tersebut,” sambungnya. Terkait dengan deklarasi dukungan resmi, kata Braditi Moulevey Rajo Mudo akan dilakukan dalam waktu dekat. “Jika tak ada halangan, dalam pekan depan deklarasi sudah kami lakukan atau bisa lebih cepat dari itu,” tuturnya. (*)

Simak! Ketua IKM Jakarta Beber Alasan Kuat Pentingnya Lisensi Rumah Makan Padang di Rantau

Jakarta – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jakarta, Braditi Moulevey Rajo Mudo mengatakan, lisensi Rumah Makan Padang di perantauan penting demi menjaga autentikasi atau keaslian dari masakan Minang itu sendiri. Hal tersebut ia sampaikan dalam dialog On Air bersama Pro3 RRI dengan tema ‘Apakah Penjual Masakan Padang, Harus Orang Padang’? beberapa waktu lalu. “Masakan Minang atau yang lebih populer dengan masakan Padang itu adalah warisan dari leluhur. Bagaimanapun, masakan Padang itu selalu diincar atau menjadi tujuan bagi semua orang, bukan hanya orang Minang itu sendiri,” katanya. Sehingga, kata Braditi Moulevey Rajo Mudo, organisasi IKM sebagai rumah atau wadah bagi perantau Minang berkewajiban untuk menjaga autentikasi atau keaslian dari masakan Minang itu sendiri di perantauan. “Agar jangan sampai nanti cita rasa yang didapat oleh masyarakat yang paham dengan bagaimana masakan Padang itu justru berbeda atau di luar ekspektasi didapatkan ketika mencoba makanan Minang saat berada di perantauan,” katanya. “Siapapun orang Sumbar yang ketika berada di perantauan, hal pertama yang akan ia cari adalah masakan Padang, itu merupakan keniscayaan. Ketika ia mendapatkan hal yang di luar ekspektasinya, tentu ini membuat mereka kecewa,” sambung Politisi Partai Gerindra tersebut. Sejatinya, kata Uda Levi, begitu ia akrab disapa, siapapun bisa dan boleh berdagang masakan Padang, namun harus menjaga autentikasi atau keaslian cita rasa dari masakan Padang. “Nah, ini pentingnya sebuah lisensi diberikan ke rumah makan Padang yang memiliki cita rasa asli masakan Sumbar. Jangan sampai rasanya justru berubah di perantauan, ini adalah soal autentikasi rasa, bukan soal siapa yang berjualan, semuanya bisa berjualan masakan Padang, namun keaslian dari rasanya,” katanya. Lisensi yang diberikan kepada rumah makan Padang agar masyarakat di perantauan atau penduduk asli justru mendapatkan cita rasa lain bahkan lupa dengan keaslian dari masakan Padang. “Soal harga yang menjual ada lebih murah, itu beda cerita, jika harganya murah tentu porsinya lebih sedikit, tapi bagaimana menjaga cita rasa masakan Padang itu,” katanya. Ia memastikan, lisensi rumah makan Padang bukan suatu hal yang rasis dan menurutnya siapapun boleh membuat dan berjualan masakan Padang. “Sampaikan kepada seluruh saudara kita, kita tidak rasis, kita melihat masakan khasnya, bukan siapa orang yang memasaknya. Tujuannya agar saudara itu tahu dengan autentikasi masakan Minang, karena mohon maaf, banyak orang yang menggunakan masakan Minang, tapi tidak asli,” katanya. Moulevey kemudian mengingatkan lagi masyarakat terkait dengan rendang babi yang dibuat bukan oleh orang Sumatera Barat (Sumbar) dan telah mencoreng nama baik Minangkabau. “Jadi, intinya kita tidak usah terpancing, tenang, apapun yang terjadi, isu-isu miring, tetap tenang, tak usah direspons, insya Allah rezeki tak akan tertukar, setiap kita pasti punya rezeki masing-masing,” katanya. Meski demikian, ia juga menyayangkan insiden yang terjadi di Cirebon tersebut sembari mengatakan bahwa hal tersebut tak terjadi lagi di kemudian hari. “Tentu kita sangat menyayangkan hal ini terjadi, saya harap jika ada hal yang dirasa janggal silakan diskusikan secara baik terlebih dahulu,” katanya. IKM sendiri, katanya, juga telah melakukan verifikasi terhadap keberadaan rumah makan Padang di Jakarta, dengan tujuan untuk memastikan keotentikan dari masakan, pemilik serta harga. “Semua itu tidak dipungut biaya alias gratis. Hal ini perlu kami sampaikan agar tidak ada nada sumbang terkait pemasangan stiker rumah makan asli Padang dari IKM itu disebut berbayar, padahal tidak ada sama sekali. Sekali lagi saya pastikan itu gratis. Ke depan kami juga akan membuat klasteriasi terkait rumah makan Padang,” katanya. Sebelumnya, masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video berdurasi 38 detik yang menunjukkan aksi sejumlah orang mencopot label ‘Masakan Padang’ di salah satu rumah makan di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Cirebon, viral di media sosial (medsos). Pencopotan itu dipicu protes memasang harga terlalu murah. Dalam video tersebut, dua orang terlihat melepas tulisan ‘Masakan Padang’ dari rumah makan yang menjual makanan dengan harga murah, hanya Rp9 ribu per porsi. Aksi ini mengundang perhatian warganet karena dianggap terkait dengan persaingan bisnis kuliner. Penasihat Perhimpunan Rumah Makan Padang Cirebon (PRMPC), Erlinus Tahar, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, fenomena rumah makan yang menggunakan nama ‘Masakan Padang’ dan menawarkan harga murah mulai muncul sejak 2021 atau 2022. Erlinus menjelaskan, pihaknya tidak mempermasalahkan siapa saja yang ingin menjual masakan Padang, baik orang Minang maupun non-Minang, tapi ia menekankan pentingnya menjaga standar harga agar tidak merugikan pedagang lain. (*)

Soal Polemik Lisensi Rumah Makan Padang, Braditi Moulevey Rajo Mudo Sebut Demi Autentikasi Masakan Minang

Jakarta – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minang (IKM) Jakarta, Braditi Moulevey Rajo Mudo angkat bicara soal lisensi rumah makan Padang yang diprotes oleh sejumlah kalangan. Dalam kegiatan Silaturahmi Akbar DPC IKM Koja, Braditi Moulevey Rajo Mudo meminta kepada seluruh anggota IKM untuk tidak terprovokasi terhadap polemik tersebut. “Di Minangkabau, sebelum merantau, kita selalu dibekali bagaimana berusaha, berdagang di rantau. Soal lisensi (rumah makan Padang) bukan suatu hal yang dipermasalahkan. Tujuan dari lisensi adalah agar saudara yang datang ke Jakarta dan ingin mencoba masakan Minang, bukan soal orangnya, terserah orang mana yang masak, tetapi (autentikasi) masakan Minang itu sendiri,” katanya. Ia memastikan, lisensi rumah makan Padang bukan suatu hal yang rasis dan menurutnya siapapun boleh membuat dan berjualan masakan Padang. “Sampaikan kepada seluruh saudara kita, kita tidak rasis, kita melihat masakan khasnya, bukan siapa orang yang memasaknya. Tujuannya agar saudara itu tahu dengan autentikasi masakan Minang, karena mohon maaf, banyak orang yang menggunakan masakan Minang, tapi tidak asli,” katanya. Politisi Partai Gerindra itu kemudian mengingatkan lagi masyarakat terkait dengan rendang babi yang dibuat bukan oleh orang Sumatera Barat (Sumbar) dan telah mencoreng nama baik Minangkabau. “Jadi, intinya kita tidak usah terpancing, tenang, apapun yang terjadi, isu-isu miring, tetap tenang, tak usah direspons, insya Allah rezeki tak akan tertukar, setiap kita pasti punya rezeki masing-masing,” katanya. Dirinya meminta kepada seluruh pengurus dan anggota IKM untuk tetap beraktivitas seperti biasa dan tetap kuat menghadapi polemik yang datang. “Jika tak ada halangan, saya akan dilantik sebagai Ketua DPW IKM Jakarta pada pertengahan November 2024 ini. Saya pastikan akan berkeliling setelah dilantik, kita akan bikin acara tiga hari tiga malam setelah dilantik pada pertengahan November ini. Kita tunjukkan orang Minang itu kompak,” tuturnya disambut tepuk tangan meriah. (*)

Kisah Pedagang RM Padang Kecil di Pelosok Negeri

Sebuah Senandung tentang Kisah Pedagang RM Padang Kecil di Pelosok Negeri Duhai Presiden Prabowo, dengarlah senandung anak bangsa ini.. Suatu waktu di Pulau Jawa, ada anak bangsa gelisah berjualan nasi Padang bertahun tahun, gelisah jualannya yang murah kini ada yang lebih murah. Belasan ribu kini bahkan ada yang berani jual dibawah itu, mereka pun mengeluh dan keluhannya ia sampaikan pada yang berjualan lebih murah itu agar jangan menggunakan narasi Padang untuk level harga murah. Mungkin disisi ini ada kelirunya, keliru kenapa diaturnya pula orang berjualan, mau murah mau mahal suka suka merekalah. Menggunakan narasi Masakan Padang juga sah-sah saja, tak ada yang melarang walau rasanya bisa jadi berbeda dengan Padang yang mengusung harga menengah dan atas. Ibaratnya ada harga ada rupa, dan bisa jadi seleraan juga soal cukup enak, enak dan enak sekali. “Jualan lemah sekali akhir akhir ini, sudah jualan semurah ini belum jaminan pula laku keras, besoknya ada yang jualan lebih murah lagi, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un “ Rasanya ini boleh disimpulkan jadi suara hati banyak pedagang nasi Padang harga di bawah 18 ribu, mereka berjualan, masak sedari waktu sebelum subuh, berbelanja sekian ratus ribu hingga sejuta lebih dan Bismillah yakin kepada Allah SWT bahwa setidaknya 95 persen semoga habis dan ada sedikit untung 100 ribu-an bisa dibawa pulang. Namun itu harapan mereka yang paling tulus, namun kenyataannya sering berbeda jauh, apalagi beberapa tahun terakhir ini duhai Pak Presiden. Di sisi lain, mereka, selain memikirkan bagaimana usaha jalan dan ada uang yang bisa dibawa menukar ke Pasar. Anak istri yang harus dikasih makan, kontrakan harus dibayar dan biaya listrik serta bensin dan makanan juga tak murah. Hari ini, 31 Oktober 2024 harga bawang Rp35 ribu pak Presiden, telur Rp25 ribu sekilo, gula dan lainnya juga tak menunjukkan harga membaik. Kemaren beli beras juga ampun pak, kata orang biar laris pakailah bahan berkualitas tinggi, beras yang bagus sekali bisa Rp450 ribu per 25 kilogram pak Presiden, gumam mereka. Inilah mereka, masyarakat kecil yang mencoba tegak di kaki sendiri, bisa masak sedikit mereka coba masak sesuai bagaimana leluhur memasak, namun karena tak kuasa melawan persaingan pasar, mereka sesuaikan juga akhirnya, bumbu seadanya. Kata orang ada harga ada rupa, mereka coba pula pak berdagang dengan baik, rasa yang cukup baik, dicoba di Rp12 ribuan, tiba-tiba tak jauh dari mereka berjualan RM Padang banting harga di bawah Rp10 ribu. Otomatis sepi kedai-kedai mereka pak, sesepi-sepinya, yang lebih murah agak ramai, menjelang ada yang berani jual lebih murah lagi. Tertatih mereka berjalan, karena tak mudah pak untuk mereka berjualan disaat kondisi daya beli masyarakat turun sekali. Oh yah Pak Presiden, kisah ini berlanjut pada sisi lain, ijin pak, ada pula satu grup para Pedagang RM Padang pak, bapak bisa gabung di Fesbuk, Facebook nama lengkapnya. Di sana, banyak sekali hampir setiap hari ada postingan “Over Kontrak RM Padang”, “Dijual Alat Alat Masak RM Padang”, “Dijual Etalase RM Padang” nah ini banyak pak, boleh bapak coba cek, mungkin bapak bisa sampaikan ke Menteri UMKM yang baru untuk intip-intip grup-grup para pedagang rumah makan. Dari Grup-grup FB tersebut akhir akhir ini agak heboh soal Razia RM Padang Cirebon yang sebenarnya bukan soal larangan suku apapun jualan RM Padang, tapi lebih ke bentuk kegelisahan akan harga yg murah semakin dipermurah. Mereka mencoba mencari solusi, tapi tampaknya razia kemaren itu lebih besar efek buruk dari pada baiknya. Dipelintir ke arah Ras dan Suku Bangsa, tentu kami salah, mereka mohon maaf pak karena salah paham, salah langkah menjadi riuh rendah dimana mana. Maafkan kami yah, pak. Banyak yang bilang bahwa harga murah itu ada pangsa pasarnya sendiri, benar adanya pak. Para Pedagang itu membisikkan sesuatu pak, “hari ini kami jual Rp12 ribu, besok membanjir jualan Rp10 ribu, ramai yang jual Rp10 ribu akhirnya ramai yang coba jualan Rp8 ribu. Tentu ada hal yang dikorbankan dari rasa dan lainnya, namun masyarakat sebagian besar senang senang saja nampaknya pak. Karena daya beli masyarakat melemah, akhirnya Padang Murah jadi tumpuan agar tetap bisa makan lumayan enak tanpa harus boncos. Fenomena ini sangat mungkin membuat mereka bertekuk lutut pak, yang murah semakin murah, satu demi satu mereka akan terpaksa mengisi postingan di grup FB, mereka terpaksa “Over Kontrak” RM Padang jikalau mereka memilih untuk mengibarkan bendera putih. Kata orang Pak, Daya Beli Masyarakat Indonesia melemah, Omset UKM turun drastis beberapa bulan ini. Kali ini mereka mengadu pak, tak sanggup berlomba lomba kami jual Nasi Padang harga terjun bebas. Sementara di sisi lain, sebagian dari Pedagang RM Padang ini mencoba bertahan di harga Rp12 ribu, mereka potonglah agak banyak ayam broiler itu pak seekornya. Kalaulah seekor ayam potong 10, mereka beli tiga ekor ayam semoga bisa laku 30 hingga 50 porsi pak di esok hari. Anggaplah dari Rp12 ribu itu mereka bisa ambil untung Rp1.500 perak. Laku habis semua mereka bisa dapatkan Rp45 rb, tapi jika tak habis maka mereka makan sambil terdiam uang di tabungan nyaris licin. Sayup-sayup anak menangis, istri terdiam, sebentar lagi pemilik kontrakan datang untuk menagih biaya kontrakan, kontrakan kedai yang juga tak murah. Maafkan kalau mereka curhat yah Bapak, mereka tahu bapak baru saja menjabat, namun pak momentum polemik razia ini mereka coba senandungkan apa yang membuat mereka lelah sendiri. Teruntuk Presiden baru negeri ini, Bapak Prabowo Subianto Djojohadikusumo, semoga senandung ini sampai ke telinga bapak. Pada waktunya, mereka takut kehabisan suara untuk bersenandung akan hari-hari yang tak mudah ini. Senandung kali ini dituturkan oleh : Uda Dian Anugrah Seorang Chef khusus Masakan Minang, Yang mencoba mensaripatikan suara-suara rakyat kecil para Pedagang RM Padang kecil menjadi dongeng khusus untuk Presiden kami yang baru. Jakarta, 31 Oktober 2024

Razia RM Padang, Menepuk Air di Dulang Terpercik Wajah Sendiri

dian anugerah dan braditi moulevey

Beberapa hari ini dunia maya diramaikan oleh berita tentang sekelompok orang yang marah marah dan mencopot stiker “Masakan Padang” di sebuah RM kecil di Cirebon. Mereka yang mengatasnamakan Perkumpulan RM Padang Cirebon ini beralasan bahwa RM Bintang Minang tersebut menjual dengan harga terlalu murah namun mengusung nama Masakan Padang yang berpotensi merusak “marwah” masakan Padang. Tindakan Razia ini sebenarnya menurut hemat saya merupakan bentuk kontraproduktif atas sebuah persaingan bisnis. Tindakan merazia ataupun menegur siapapun yang berjualan tanpa kapasitas yang cukup hanya akan mendatangkan konflik horizontal yang tidak diperlukan bagi anak keturunan Minangkabau dimanapun berada. Tindakan yang sembrono ini apapun alasannya dapat mengundang stigma negatif dari banyak pihak kepada perantau Minang dimanapun berada. Apalagi di jaman digital dengan arus berita yang sangat cepat, mudah sekali mengundang salah paham dan sangat berpotensi dipelintir. Kondisi ekonomi bangsa sejak pandemi yang tidak begitu baik membuat banyak pihak mencoba berinovasi menjual makanan dengan tema yang populer. Apalagi jikalau bukan “Masakan Padang” masakan jutaan ummat dengan rasa yang mudah diterima oleh berbagai pihak, suku bangsa, ras dan agama. Rasanya yang gurih dan penyajiannya yang cepat menjadi jawaban paduan rasa yang baik dan penyajian yang tak lama. Tak perlu berlama lama hanya sekejap sampailah pesanan di depan mata, harga bervariasi dan rasa juga berbeda beda. Lahirlah RM Padang Murah, memang benar benar murah dan tidak hanya menyebar di seluruh Indonesia. Di ranah minang sendiri banyak juga orang Minang berjualan murah meriah, 10rb-16 rb masih termasuk murah. Sementara rumah makan sedang dan besar menjual di harga 18-25++, ada harga ada rupa pastinya. Episode Razia RM Padang ini berhasil dipelintir beberapa pihak sebagai sebuah Razia terhadap Orang non Minang dilarang berjualan Nasi Padang, namun menurut berita yang ada, razia yang mereka lakukan lebih karena faktor harga terlalu murah yang menyebabkan hancurnya rm padang lainnya yang menjual diatas harga itu. Semisal harga 8rb disaat yang lain tak mampu menjual di harga semurah itu, akhirnya terjadi konflik karena kondisi pasar juga tak baik baik saja akhir akhir ini. Kita harus adil sejak dalam pikiran pastinya, Razia itu tidak dibolehkan, apapun alasannya karena hanya akan mengundang hal hal negatih yang tidak pada tempatnya. Masakan Padang sudah menjadi masakan Indonesia yang begitu mudah ditemui hampir di seluruh tempat di Indonesia dan bahkan luar Indonesia. Dalam hukum ekonomi, murah tentu akan mengurangi banyak fitur dalam sebuah layanan bisnis, harga yang semakin tinggi tentu harapan konsumen juga akan semakin besar akan sebuah layanan, kualitas dan rasa dari sebuah produk. Nasi Padang menjelma dalam banyak lapisan pangsa pasar bahkan di ranah minang sendiri. Di ranah minang ada banyak suku bangsa menjual masakan Padang walau tidak melabeli diri sebagai RM Padang sebagaimana yang jamak terjadi di luar ranah minang. RM Bahagia di Padang yang masakannya juga lezat dimiliki oleh saudara Tionghoa Padang, didapurnya tentu ada orang Padang juga yang berkerja saling bahu membahu menyajikan sajian terbaik. Ada juga RM Pagi Sore Padang di daerah Pondok kota Padang dimiliki oleh Alm Bapak H Benny Pusaka seorang Tionghoa Padang yang mempunyai istri orang Minang yakni Ibu Rostina yang mana usaha ini dilanjutkan oleh istri dan anak anak beliau hingga saat ini, RM Pagi Sore Padang ini terkenal sekali dengan ayam goreng panas panas nan legendaris. Harga bervariasi mulai dari 20-35 rb dan tidak bermain di pangsa pasar Padang Murah tentunya. Di level nasional ada Ko Marco seorang Tionghoa Kota Padang dengan nama Marco Padang, mengusung tema Padang Peranakan dengan pangsa pasar menengah ke atas. Aman dan tentram puluhan tahun berjualan nasi Padang bahkan di ranah minang dan rantau sekalipun. Hal ini sekaligus membantah opini beberapa pihak bahwa ada larangan orang yang bukan bersukukan Minang dilarang berjualan RM Padang. Kembali kita membahas Padang Murah, genre Padang Murah ini di Kota Padang sendiri tersebar biasanya di daerah yang dihuni oleh mahasiswa. Ukuran lauk yang berbeda pastinya dengan RM Padang besar, rasa juga berbeda dan tak bisa juga disama samakan. Masing masing tangan beda rasa beda cara olahnya, namun karena dijual murah pastinya mereka akan sangat efisien dalam menggunakan bumbu, agar ada untung yang baik dalam berdagang. Kejadian Razia RM Padang ini juga harus diambil menjadi bagian Otokritik ke dalam pedagang nasi padang yang dari Minang itu sendiri, semakin murah tentu semakin luas ceruk pasar. Pasar yang tidak mengandalkan rasa yang authentik, yang penting kenyang, murah dan banyak. Tapi tentu ada resiko tersendiri bermain di pangsa pasar ini, jika tak habis bisa jadi buntung daripada untung. Idealisme masakan Padang yang baik tentu gunakan sekitar 10 persen saja, tak perlu banyak banyak, karena sudah pasti tak akan untung kalau menggunakan konsep Masakan Padang yang baik seperti yang diajarkan leluhur kita. Andaikan bermain di level ini, berstiker Masakan Asli Padang atau Minang pun dengan harga murah, jika suatu saat ada orang Minang makan pastilah dia paham juga, ada rasa ada rupa. Maka label asli Padang pun hanya akan menjadi penanda bahwa yang memasak memang asli padang, tapi belum tentu memasak seperti leluhur Minang memasak. Sebagai contoh memasak rendang, lazimnya menggunakan kelapa tua 4-5 butir per 1 kg daging, dimasak lama bisa lebih dari 5 jam dan dimasak tanpa menumis karena minyak dari kelapa sudah pasti banyak. Di sisi lain amsyong pastinya walau asli padang, apa iya dengan jualan harga murah akan mampu memakai standar yang baik dalam melahirkan masakan Padang yang baik dan nikmat seperti yang biasa dimasak amak amak, inyiak inyiak rang minang lamo. Pertanyaan ini kita renungkan jawabannya sama sama, sehingga akhirnya kita sendiri bisa menyadari “Razia” ini tak berguna, walau dengan alasan “Padang Murah” karena orang minang sendiri banyak yang berjualan Murah Meriah walau akhirnya banyak yang almarhum rumah makannya, tapi mereka ada dan yang sukses juga ada. Lisensi RM Padang yang akan dan sudah dilakukan oleh Ikatan Ikatan Keluarga Minangkabau juga bukan hal sederhana, mungkin bisa menjadi penanda bahwa benar ini dimiliki anggota keluarga Komunitas Minang, tentunya harapan orang bahwa ketika stiker lisensi ini dipampang, rasa dan kualitas masakan benar benar mereka nanti tentunya mereka berharap lebih lezat dan nikmat, jangan sampai malu pada lisensi. Ketika orang makan ternyata rasanya tak jauh berbeda daripada rm yang berlabel Padang Murah.

Gaduh Soal Stiker Rumah Makan Dicopot di Cirebon, IKM Jakarta: Tabayyun Dulu

Jakarta – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) IKM Jakarta, Braditi Moulevey Rajo Mudo angkat bicara terkait insiden pencopotan tulisan masakan Padang di salah satu rumah makan Cirebon, Jawa Barat. Braditi Moulevey Rajo Mudo meminta semua pihak untuk menahan diri dan untuk bertabayyun terlebih dahulu sebelum menyimpulkan apa yang telah dilihat dan didengar. “Jangan terlalu cepat menyimpulkan, alangkah baiknya kita untuk bertabayyun kepada pihak terkait. Jangan sampai persoalan ini justru akan menimbulkan konflik SARA, tentu imbasnya akan lebih buruk lagi,” katanya, Selasa (29/10/2024) malam. Politisi Partai Gerindra itu juga meminta kepada pengusaha rumah makan yang ingin melabelkan masakan Padang untuk berkoordinasi dahulu dengan pihak terkait agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari. “Rumah makan Padang itu merupakan sarana pemersatu dan pengobat rindu para perantau di manapun, di sana kekuatannya. Ketika dikelola dengan baik, maka ini bisa menjadi satu hal yang sangat membanggakan,” katanya. Pada kesempatan itu, Moulevey juga menyayangkan insiden yang terjadi di Cirebon sembari mengatakan bahwa hal tersebut tak terjadi lagi di kemudian hari. “Tentu kita sangat menyayangkan hal ini terjadi, saya harap jika ada hal yang dirasa janggal silakan diskusikan secara baik terlebih dahulu,” katanya. IKM sendiri, katanya, juga telah melakukan verifikasi terhadap keberadaan rumah makan Padang di Jakarta, dengan tujuan untuk memastikan keotentikan dari masakan, pemilik serta harga. “Semua itu tidak dipungut biaya alias gratis. Hal ini perlu kami sampaikan agar tidak ada nada sumbang terkait pemasangan stiker rumah makan asli Padang dari IKM itu disebut berbayar, padahal tidak ada sama sekali. Sekali lagi saya pastikan itu gratis. Ke depan kami juga akan membuat klasteriasi terkait rumah makan Padang,” katanya. Sebelumnya, masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video berdurasi 38 detik yang menunjukkan aksi sejumlah orang mencopot label ‘Masakan Padang’ di salah satu rumah makan di Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Cirebon, viral di media sosial (medsos). Pencopotan itu dipicu protes memasang harga terlalu murah. Dalam video tersebut, dua orang terlihat melepas tulisan ‘Masakan Padang’ dari rumah makan yang menjual makanan dengan harga murah, hanya Rp9 ribu per porsi. Aksi ini mengundang perhatian warganet karena dianggap terkait dengan persaingan bisnis kuliner. Penasihat Perhimpunan Rumah Makan Padang Cirebon (PRMPC), Erlinus Tahar, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, fenomena rumah makan yang menggunakan nama ‘Masakan Padang’ dan menawarkan harga murah mulai muncul sejak 2021 atau 2022. Erlinus menjelaskan, pihaknya tidak mempermasalahkan siapa saja yang ingin menjual masakan Padang, baik orang Minang maupun non-Minang, tapi ia menekankan pentingnya menjaga standar harga agar tidak merugikan pedagang lain. (*)

Fadli Zon Ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Kebudayaan di Kabinet Merah Putih 2024-2029

Braditi Moulevey Rajo Mudo, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minang (IKM) sekaligus kader Partai Gerindra, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Dr. H. Fadli Zon, S.S, M.Sc, Datuak Bijo Dirajo Nan Kuniang atas pelantikannya sebagai Menteri Kebudayaan di kabinet Merah Putih 2024-2029.Braditi mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan Fadli Zon yang dianggap sebagai sosok penting di kalangan perantau Minangkabau. Selain sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang ( IKM), Fadli Zon juga dikenal aktif dalam politik nasional. Penunjukan Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan, menurut Braditi, menunjukkan tingginya kepercayaan pemerintah terhadap kepemimpinan, integritas, dan kemampuannya dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Braditi berharap Fadli Zon mampu memajukan dan memperjuangkan budaya Minangkabau agar lebih diakui secara nasional.Braditi menambahkan, penunjukan Fadli Zon di Kabinet Merah Putih diharapkan membawa semangat baru dalam pembangunan kebudayaan nasional. Ia berharap Fadli dapat mengimplementasikan kebijakan yang mendukung pelestarian kebudayaan serta memperjuangkan kepentingan masyarakat Minangkabau di seluruh Indonesia. Braditi yakin Fadli akan menjalankan tugas ini dengan dedikasi dan integritas demi kemajuan kebudayaan Indonesia.Dukungan penuh dari IKM juga tercermin dalam ucapan selamat tersebut. organisasi ini melihat pelantikan Fadli sebagai momentum penting, baik dalam dunia politik maupun kebudayaan. Mereka berharap Fadli Zon dapat mengangkat budaya Minangkabau dan budaya nasional ke tingkat yang lebih tinggi.Di akhir pernyataannya, Braditi menyampaikan harapan dan doa agar Fadli Zon sukses menjalankan tugasnya sebagai Menteri Kebudayaan dan mampu membawa kebudayaan Indonesia, termasuk budaya Minangkabau, menuju kemajuan yang lebih besar.

Braditi Moulevey Rajo Mudo: IKM Dukung Usaha UMKM Kuliner Perantau Minang di Jakarta

dian anugerah dan braditi moulevey

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minang (IKM) Jakarta, Bradity Moulevey Rajo Mudo tidak membutuhkan waktu lama menjalankan program kerja usai dirinya terpilih menjadi pimpinan organisasi perantau Minang tersebut. Terbaru, pria asal Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) yang berdomisili di Jakarta Timur (Jaktim) itu bertemu dengan Minangkabau Cuisine Specialty Chef, Dian Anugrah, Minggu (8/9/2024) siang. “Yang jelas pertemuan ini adalah bukti dari gerak cepat saya usai terpilih menjadi Ketua DPW IKM Jakarta, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dengan seluruh unsur perantau Minang yang ada di Jakarta,” kata Moulevey, Senin (9/9/2024) malamPertemuan pertama, kata Braditi Moulevey Rajo Mudo, dilakukan di Rumah Makan Sepiring Ayam Pop yang berada di Kalisari, Jaktim. Di sana, Moulevey melihat rumah makan yang dikelola oleh Dian Anugrah yang juga merupakan perantau di Minang. “Saya selaku Ketua IKM Jakarta yang terpilih akan mengagendakan untuk keliling Jakarta mengunjungi dan melihat langsung usaha UMKM kuliner anggota IKM,” katanya. Braditi Moulevey Rajo Mudo mengaku sangat terkesan dan tidak bisa menutupi rasa kebahagiaannya bisa bertemu dengan Dian Anugrah serta usaha kuliner yang dijalankan. “Rumah makan ini cukup unik, menyediakan bahan baku langsung dari Sumbar, namun dengan harga yang terjangkau. satu porsi ayam pop hanya dihargai Rp20 ribu dengan bahan baku premium dari Sumbar,” katanya. Melihat bisnis yang dilakukan Dian, Moulevey yang juga merupakan Politisi dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu memastikan bahwa IKM serius membantu usaha kuliner dengan membuat lisensi rumah makan Padang. “Bahkan, di struktur kepengurusan, ada bagian yang menangani rumah makan Padang, saya sendiri langsung meminta ketersediaan Dian Anugrah membantu saya di DPW IKM Jakarta untuk mewujudkan mimpi tersebut,” katanya. Selain memastikan bahwa masakan Padang yang dibuat oleh restoran Padang diberikan lisensi. DPW IKM Jakarta, katanya, juga akan mengadakan seminar tentang bagaimana membuat masakan Padang yang sesuai dengan standar kebersihan, higienis dan halal sesuai peraturan pemerintah. “Target akhir, kami berharap semua rumah makan Padang yang benar-benar asli Padang di Jakarta bisa terdaftar mendapatkan lisensi dari IKM,” kata pria yang merupakan Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Kota Padang yang pertama tersebut. Sementara itu, Minangkabau Cuisine Specialty Chef yang juga pemilik dari Rumah Makan Sepiring Ayam Pop, Dian Anugrah mengatakan, dirinya sangat senang bisa bertemu dan bersilaturahmi secara langsung dengan Braditi Moulevey Rajo Mudo. “Pertama, saya mendukung penuh beliau sebagai Ketua DPW IKM Jakarta dan siap untuk membantu beliau dan berkontribusi di IKM,” katanya. Baginya, Braditi Moulevey Rajo Mudo sangat cocok untuk memimpin DPW IKM Jakarta karena beberapa alasan. “Pertama, jaringan Braditi Moulevey Rajo Mudo ini luas, dia punya akses ke semua lini yang sangat berperan dalam pengembangan UMKM perantau Minang yang ada di Jakarta,” katanya. “Beliau juga sangat dekat dengan siapapun dan tidak pernah melupakan adik-adiknya, di manapun itu, serta beliau orang yang sangat berpengalaman di organisasi,” sambungnya. Kemudian, kata Dian, sosok Moulevey bisa menjadi fasilitator dari pelaku UMKM Ranah Minang di Jakarta dengan membantu mengembangkannya di tengah persaingan yang cukup ketat. “Terutama untuk rumah makan Padang, Bang Levi saya fikir bisa untuk menjadikan kuliner asal Ranah Minang menjadi raja di Jakarta tanpa menghilangkan keotentikan atau cita rasa asli makanan itu sendiri,” katanya. Baginya, masyarakat Minangkabau memiliki kepribadian yang egaliter serta bisa berbaur dan menerima siapapun, termasuk dalam berbisnis. “Termasuk jika orang luar Minang membuat usaha kuliner Minang. Poin positifnya, makanan kita sudah dikenal dan meng-Indonesia lah, semua orang jadi tahu. Namun, kita juga harus memikirkan jangan sampai makanan asli Minang ini kehilangan cita rasa aslinya itu tadi,” katanya. Untuk itu, katanya, peran IKM untuk menata ulang pelaku UMKM dengan usaha masakan Minang sangat vital atau strategis. “Saya sudah mencontohkan bagaimana saya mendatangkan bahan baku seperti cabai, bawang dan bahan baku makanan lainnya itu 100 persen dari Sumbar, kemudian untuk pendukungnya seperti ayam, itu bisa dari sini. Tujuannya agar cita rasa khas Minang itu tidak sirna. Saya yakin, di tangan Braditi Moulevey, semua bisa terealisasi,” tuturnya.

Jaringan

Pengurus IKM Jakarta

DPD IKM Jakarta

Contact

admin@ikmjakarta.id

© 2024 Dari Rantau untuk Ranah